Sekedar celotehan pengingat, Kawan.

Tulisan ini dibuat, bukan untuk menggurui atau menghakimi. Ini hanya celotehan pengingat untukmu, kawan.

Dalam beragama, lengkapi aktivitas mu kepada Tuhan dengan aktivitas yang baik kepada sesama. Maka dengan itu, sempurna lah kehidupan beragama mu.

Tidak semua yang baik menurut kita, baik menurut Tuhan.

Ya..begitulah adanya. Dalam pandangan atau penilaian kita, perasaan, sangat banyak mengambil porsi dalam menentukan baik dan buruknya suatu hal yang sudah dan akan kita lakukan. Maka tidak heran jika lingkungan kita terbiasa dibuai dengan kebohongan yang indah dibandingkan harus hidup dalam kenyataan yang pahit. Sekali lagi saya katakan, indah dan pahit di atas itu lahir dari penilaian perasaan kita. Jadi, keadaan yang kita alami, belum tentu berlaku untuk orang lain. Ingatlah kawan, sesuatu yang diawali dengan baik, maka seharusnya berakhir dengan baik pula. Percayalah kawan, Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk makhluknya. Tentu saja, karena Dia adalah yang Maha Tahu.

Terkadang, sebagian dari kita lebih memilih untuk menghargai perasaan orang lain daripada mematuhi peraturan Tuhan. Ironis, kawan. Karena sesungguhnya, bukankah kita ini diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan? Kita diberi hidup, tujuannya adalah untuk itu. Tuhan kasih kita kesempatan dan kebebasan untuk beribadah kepada-Nya. Sebaik-baiknya ibadah adalah yang sesuai dengan ketentuannya.

..dalam aktivitas kepada Tuhan, semuanya adalah haram kecuali yang sudah ditentukan. Dalam aktivitas kepada sesama, semua adalah boleh kecuali yang dilarang..”

di mendungnya cuaca BSD, pagi ini.

Menjawab Dalam Hati (bagian 1)

Ya..menjawab dalam hati. Semakin dewasa, semakin sering saya melakukannya. Terlalu banyak pertanyaan dari lingkungan sekitar saya yang lebih bijak jika saya jawab dalam hati saja. Inilah pilihan yang saya buat untuk menghindari konflik dengan sekitar. Karena bagaimana pun, orang bijak berkata “1000 temen itu sedikit, 1 musuh itu terlalu banyak..” hehehe..lucu juga sih. Tapi memang begitulah kenyataannya sekarang, saya lebih memilih menjawab dalam hati untuk banyak sekali urusan2 atau pertanyaan2 yang timbul di lingkungan sekitar. Tapi kalau hanya saya simpan dalam hati, takut saya lupa akan hal ini. Atau takut kawan/kerabat saya menyangka saya orang yang acuh, dan mungkin sebagian mereka akan menganggap saya orang yang bodoh.

Apapun opini dari mereka, biarlah mereka yang tahu. Toh saya tetap akan menuliskan semua “jawaban dalam hati” saya di tulisan ini.

Agar mereka -kawan, kerabat dan saudara” bisa tahu apa alasan atau dasar pemikiran yang saya punya untuk semua tindak-tanduk saya dalam kehidupan *berasa penulis berita. Baik, mari kita mulai sesi tanya jawabnya.

Menjawab Dalam Hati (bagian 1)

ada yang bertanya : “Tuhan itu ada ga sih? Buktinya kalau Tuhan itu ada, apa?”

jawab hati saya : “kawan, lihatlah sekitarmu. Lihat tubuhmu, bagaimana sempurnanya semua fungsi anggota tubuhmu. Atau kamu bisa perhatikan bagaimana sempurnanya semua gerak benda2 di langit. Apa itu bergerak dengan sendirinya? Atau benda tersebut serta merta hadir dan bergerak sesukanya? Pada siapa benda2 tersebut Patuh? Itulah Tuhan, bung..

Kalau kalian menjawab “itulah ilmu pengetahuan, itulah SCIENCE..” aku akan berkata “Tidak kawan, science itu adalah salah satu dari usaha manusia untuk menjelaskan hukum2 dan ketentuan Tuhan yang kita rasakan..usaha kita untuk lebih mengenal Tuhan.”

 

ada yang berkomentar : “Islam itu aneh, kok laki2nya malah dianjurkan poligami..” tulis seorang di Timeline Twitter.

jawab hati saya : “lah..ini orang yang ga ngerti hukum islam, mencoba mengomentari hal-hal yang dasarnya pun dia tidak tahu. Poligami di dalam Islam itu sejatinya tidak semudah yang kalian lihat praktiknya di dunia ini, kawan. Dan kalaupun ada orang yang mengerti dan berpoligami, pasti butuh kesiapan yang luar biasa besar. Memang, sebagian besar faktanya di dunia ini, khususnya di Indonesia, tidak terlihat sebagaimana mestinya. Orang bijak berkata “apa yang kita tanam, maka itu yang kita petik hasilnya nanti”, ya..sesungguhnya jika para lelaki itu tahu beratnya menjadi seorang imam, maka akan berpikir ratusan bahkan jutaan kali untuk berpoligami. Karena kelak, istri dan anak2 kita itu akan menjadi saksi -bahkan lawan- kita di akhirat. Mereka bisa meringankan jalan kita ke surga, atau malah menyeret kita ke neraka.

Ingat kawan, pengetahuan TUHAN meliputi segalanya. Tidak akan ada yang luput dari keadilan-NYA.”

 

beberapa orang bertanya-tanya : “serius lo!? lo pro hukum syariah? Jaman sekarang, hukum kayak gitu ga aplikatif banget! Hidup jaman sekarang tuh ga melulu bisa diatur sama agama! coba liat ormas2 itu..kerjaannya ngerusak mulu!”

jawab hati saya : “hehehehehe..saya cuma bisa tersenyum mendengar komentar2 seperti ini. Kawan, yang saya imani, islam itu rahmat untuk seluruh alam. Jikalau ada perusakan atas nama Islam, omong kosong mereka semua! itu bukan islamnya yang cacat, tapi individunya yang perlu dipertanyakan kualitas islamnya. Bukan saya bermaksud menghakimi ke-imanan seseorang, tapi sesungguhnya itulah yang terjadi. Di dunia ini, jikalau ada kasus yang bisa disangkut/dikaitkan dengan nama islam, niscahya gaung beritanya akan besar. Bukan karena pelaku tersebut orang islam, lantas kalian semua berhak memberikan justifikasi buruk tersebut, kan!?

Contoh, ada seorang koruptor lulusan Universitas terkemuka di Indonesia, apa boleh kita berkata universitas tersebut mendidik untuk jadi koruptor?

Aplikasi Hukum Syariah

Soal aplikatif atau tidaknya hukum syariah, tergantung penempatannya dong. Simpelnya gini, kalau kita lempar bola ke atas maka bola tersebut akan jatuh ke bawah. Itu kejadiannya kalau di bumi kan? kalau di bulan!? Ya..ga akan berlaku kejadian yang sama kayak gitu.

Jadi, semua itu tergantung tempatnya. Maka, saya sering heran melihat komentar orang2 yang tidak mengerti syariah islam, tapi berkomentar -mengatasnamakan hak asasi manusia- seolah paling paham bagaimana cara mengatur hidup manusia. Gini deh, misalnya pelaku yang terbukti berzina akan dikenakan hukum cambuk. Nah, kalau ga berzina, ngapain takut toh? Simpel. Pelaku yang terbukti mencuri, jika memang diharuskan, maka potong tangannya. Simpel kan? Ada yang keberatan atas nama HAM? Saat dia mencuri, saat dia membunuh, apa pelaku memikirkan Hak dari si korban?

Kawan, hati dan perasaan saja tidak akan sanggup membawa kedamaian untuk alam.

Aturan Berlaku Pada Tempatnya

Jikalau kita punya rumah maka kita mau setiap tamu yang berkunjung, harus menaati semua ketentuan yang berlaku di rumah kita kan? Memang, setiap orang bebas bertamu, siapapun boleh berkunjung. Tetapi, ketika sang tamu ada di dalam rumah kita maka mereka harus ikut aturan kita sebagai yang punya rumah. Jika tidak, maka kita bisa meminta -bahkan memaksa- mereka untuk keluar dari rumah kita. Contoh, kalau datang ke rumah A, orang berbaju kuning tidak boleh masuk. Maka jangan sekali-kali orang berbaju kuning masuk ke rumah A, jika tidak ingin ditolak atau diusir si A. “kok ga boleh sih?” pasti pertanyaan seperti ini kerap timbul. “di rumah B, berbaju kuning boleh masuk kok..” Ya sudah, jika kalian ingin berbaju kuning, main dan datanglah ke rumah B. So Simple kan!?

Sesungguhnya, semua yang ada di sekitar kita ini adalah jawaban dari semua yang ada dalam pikiran kita, jika kita benar-benar berpikir.

Di mendungnya suasana langit BSD..

 

Diskriminasi ?

Ya..

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi jejaring, Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama manusia warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb.)

Sebelum bahas makna ini lebih jauh, saya ingin mempertanyakan, siapakah penulis KBBI ini? mengapa dia menulis “dsb” di sana? terlalu banyak kah keragaman kita? Apakah memang benar kita terkotak-kotak sebagaimana pengertian bahasa di atas? Atau memang di negara ini lumrah terjadi pembedaan karena beberapa unsur di atas?

hmm..anyway, balik lagi ke persoalan diskriminasi.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 1 desember, diperingati sebagai hari HIV-AIDS sedunia. Mengapa harus diperingati? Bukan coba untuk mendiskriminasi kan tentunya?? Mungkin jawaban yang bisa tepat mengena ke logika saya adalah, untuk mengingatkan kita, manusia, bahwa ada virus HIV yang berbahaya dan sudah menyebabkan kematian dalam jumlah yang tidak sedikit.

Sebenarnya, bukan cuma virus ini aja kan yang menyebabkan kematian dalam jumlah banyak!? Ya, tentu jawabannya adalah iya. Bukan hanya HIV saja yang menyebabkan kematian. Lalu apa yang berbeda dengan virus2 atau penyakit2 lain yang juga sama2 menyebabkan kematian? Jawabannya adalah, pada tahap awal, tidak ada ciri khusus yang bisa membedakan orang yang positif terjangkit, dengan orang yang negatif. Kalau mau tau ciri2 HIV positif, tinggal bercermin aja. Ya, itu kita. Manusia yang “tampak” sehat di kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang berbeda pada tahap awal infeksinya. Maka dari itu banyak orang yang terlena. Mungkin banyak yang tidak sadar bahwa mereka terjangkit virusnya. Dan karena bila sudah terinfeksi HIV positif, tubuh kita akan mengalami defisiensi (kekurangan) sistem imun. Kejadian inilah yang nantinya akan membuat sistem tubuh kita menjadi sangat gampang terserang penyakit. Dan rata2, penderita HIV+ meninggal karena ada beberapa penyakit pada tubuhnya.

Oleh karena sebab di atas lah, maka pakar kesehatan (dokter dan semua elemen yang ada di dalamnya) sangat giat untuk melakukan beragam kegiatan yang bertujuan agar masyarakat aware dengan virus ini. Harapannya adalah, tingkat penyebaran infeksi virus HIV dapat dibuat se-sedikit mungkin. Jadi sebenarnya, tidak bijak jika hari tersebut (1 des) dijadikan “hanya”sekedar curhat saja.

Jadi, di mana diskriminasi itu?

Ok. Balik lagi ke masalah diskriminasi. Saya sebenarnya agak menyayangkan tindakan orang tersebut untuk mengekspos perlakuan diskriminatif yang diterima keluarganya. Mengapa? karena masyarakat, media dan pemerintahan kita -dilihat dari tren nya- masih tidak cakap dalam menyikapi masalah seperti ini. Akhir ceritanya, ini akan menggelembung menjadi balon, lalu kemudian pecah dan hilang tanpa bekas. Bapak tersebut, pada 1 des kemarin, bercerita tentang bagaimana dia dan keluarganya mendapat perlakuan yang diskriminatif (yang pada 1 des tahun lalu pun saya baca juga paparan beliau). Tapi, untuk 1 des sekarang, kasus menjadi ramai, karena anaknya ditolak untuk bersekolah di salah satu sekolah swasta di jakarta. Sedih? jelas sedih dong. 1 anak Indonesia tidak bisa sekolah karena ini. Pada point ini, saya sangat sedih mengetahui kenyataan seperti ini masih ada di negara kita. Tapi, yang saya lebih sedih lagi, reaksi sang bapak yang “memuntahkan” cerita ini ke -social- media.

Apa ini reaksi yang tepat ?

Saya pun mulai berkomentar tentang peristiwa ini (peristiwa sang bapak curhat, bukan peristiwa anak ditolak sekolah yaa) di timeline twitter saya. Dan beberapa teman pun “mulai” menyerang pemikiran saya. Banyak dari mereka yang bilang “lo liat dulu dong timeline dia, jangan asal jeplak aja”..hehe, asal kalian tau kawan, tepat setahun yang lalu juga saya sudah mencermati isi timeline bapak tersebut. Adapula yang berkomentar, “lo pikir dong, kalo lo HIV+, terus anak lo ga bisa sekolah gara2 itu, lo sedih ga?” hehe (selalu saya jawab dengan senyum atau tawa tepatnya) saya sedih kawan, tapi saya tidak akan bereaksi seperti itu dan jikalau saya positif, saya pun memilih untuk TIDAK memasukan anak saya ke sekolah biasa (umum). Karena saya akan lebih sedih lagi, jikalau di sekolah umum tersebut mulai banyak yang terinfeksi virus HIV, lalu anak saya dan saya yang menjadi “kambing hitam” atas peristiwa tersebut.

Dan satu lagi kawan, pernah kalian pikirkan perasaan ratusan orang tua murid yang punya anak  HIV negatif, tiba2 pulang membawa kabar bahwa dia seorang HIV+ ?? pernah ada pikiran itu di kepala kalian? pernah kalian pikirkan rasa khawatir dan rasa apa lagi yang ada di pikiran orang tua kalian ketika kalian bilang “mah, aku hiv+..” Padahal orang tua kalian tahu, pergaulan kalian baik2 saja. Kalian nggak ngobat, kalian bersih dari tato, kalian ga maen sama pelaku prostitusi.

Lalu Apa Ke Depannya?

Sekali lagi saya tekankan. Saya sama sekali tidak menolak untuk bergaul dengan ODA. Poin saya adalah, bagaimana agar masyarakat dapat menerima edukasi yang cukup mengenai masalah ini. Dan bukan maksud saya untuk diskriminatif, tapi memang ORANG2 SPESIAL BUTUH PERLAKUAN YANG SPESIAL. Kalau kita hanya mengaitkan kata diskriminasi dengan perasaan, ga akan ada habisnya kawan. Saya, orang berkulit tidak putih, akan merasa terdiskriminasi melihat iklan produk kecantikan yang berujar “kulit putih lebih sehat”..APA MAKSUDNYA? -perasaan saya mikir gitu-. Dan kalau hanya bermain dengan perasaan, berapa banyak orang tua siswa luar biasa di luar sana, yang akan menuntut sekolah dan pemerintah hanya karena anak mereka tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah biasa?. Kalau bapak tersebut dilarang masuk mall karena HIV+, itu aneh. Kalau bapak tidak boleh beli sembako karena HIV+, itu absurd!

Ayolah kawan,,kita semua tahu, pendidikan itu bukan cuma bisa kita dapat di sekolah. Liat kak Seto, apa beliau merasa minder? justru beliau diberi kepercayaan untuk menjadi bagian KOMNAS ANAK. Liat HANSON, mereka home school, dan mereka tetap oke dengan MMBBOOPP nya.

Belajarlah dari sekitar..banyak ilmu di sekitar kita jika kita mengetahui. Jangan terjebak dalam perasaan.

YANG SPESIAL MEMANG BUTUH PERLAKUAN SPESIAL JUGA

Dan sekali lagi, tidak ada DOSA-nya untuk jadi spesial, toh..

Untuk kawan2ku semua, MERDEKA!!!

 

 

Dosa Apa??

Dosa Apa?

Menurut saya, sangat sombong bila pertanyaan ini kerap muncul tiap manusia diberi cobaan. Seakan kita selalu hidup sesuai dengan jalan Allah. Sadarlah, bila kita diberi cobaan, pasti banyak hikmah yang bisa kita ambil manfaatnya. Yakinlah, bawa tiap cobaan itu bisa membuat kita menjadi lebih baik.  Yaitu bagi kita yang dapat mengambil hikmah dari tiap cobaan tersebut.

Memang saya sadar, banyak sekali orang yang tidak mau mengaitkan antara musibah yang terjadi dengan apa yang telah kita lakukan. Mereka bilang “musibah ya musibah, tidak ada kaitannya dengan dosa dan pahala”..atau “banjir mah banjir aja, ga ada kaitannyaa sama sering atau tidaknya kita shalat”..dan masih banyak lagi argumen orang mereka di luar sana.

Tapi, dalam pandangan saya, musibah2 yang datang tersebut mungkin juga tidak bisa dilepaskan dari dosa2 yang diperbuat manusia2nya. Jangan terlalu naif-lah, kita harus akui itu. Musibah tersebut -seharusnya- bisa jadi bahan pemebalajaran untuk kita, agar bisa menjadi lebih baik. Tapi jangan salah diartikan, bukan berarti orang yang tertimpa musibah2 tersebut adalah orang yang -penuh- dosa. Mereka korban dari dosa2 para pelaku sebenarnya.

Ambil contoh, kasus jembatan mahakam kemarin, itu pasti kelalaian dari manusia. Entah pada tahap persiapan, tahap eksekusi, maupun pada tahap pemeliharaannya.
Contoh lain, bencana banjir yang kerap datang ketika musim hujan. Cmon guys, masa kita mau tiap tahun nyalahin hujan!? Bukan maunya alam kan untuk ditebang pohonnya secara sembrono dan serakah. Bukan pula keinginan tanah agar diatasnya lebih banyak diisi oleh semen+beton yg menjadi mall dibandingkan rindangnya pohon2 lindung yg bisa jadi paru2 kota.

Lalu Apa Hikmahnya?

Nah, untuk bisa mengambil hikmah dan manfaat dari semua kejadian, kuncinya adalah ikhlas dan bersyukur. Ikhlas lah untuk merelakan apa2 yg memang bukan milik kita. Dan bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan untuk terus menjalani hidup ini. Berikan manfaat sebanyak banyaknya untuk lingkungan kita. Karena sebenarnya tiap kejadian itu tidak akan pernah ada yang sia-sia. Saya percaya itu. Kita, manusia, harus bisa menjadi lebih baik.

Dipenatnya kondisi kantor yang labil ini..

Hufftt..

Ketika Hujan Turun..

Aku masih ingat sekali hari itu. Sinar Matahari yang banyak terhalang oleh awan, menyebabkan mendung di siang itu.

Gerak udara, semerbak aroma ruangan pun masih terasa.

Saat asa tinggal lah kata. Ketika janji perlahan tidak terbukti.

Hujan pun turun. Seolah tahu bumi perlu air.

Hujan pun turun. Seolah tahu ada emosi mengalir.

 

Bung dan Nona, mungkin sudah pada batasnya.

Meski bung, nona dan kita semua tahu memang sabar itu tidak berbatas.

Tanpa banyak kata terucap. Detik, menit berlalu begitu saja.

Saat itu, hujan pun masih turun. Seolah tahu suaranya merdu.

Hujan masih turun, seakan tahu Bung tidak mau pergi.

 

Tapi, hujan turun pun ternyata tidak cukup untuk menahan dia.

Bung pun pergi hari itu. Walaupun dia kembali, tapi aku tahu dia bukan Bung yang sama lagi.

Mungkin, walaupun masih sama, tapi semua sudah berbeda di sana.

Sedikit rasa yang tersisa.

Hingga hujan pun belum mau berhenti. Seakan tahu aku tidak mengerti.

Hujan turun, seakan tahu aku sedang sendu.

Hujan pun turun, berharap bisa membawa sedih berlalu.

Menurut Saya, Beda Itu Luar Biasa..

“Beda itu, biasa..”

Entah siapa yang memulai mencetuskan pemikiran ini. Tapi, saya lazim mendengarnya semenjak saya SD. Entah hanya ada di Indonesia, ataupun di negara2 lain pun ada istilah seperti ini. Entahlah, tapi menurut saya, ini tidak tepat. Bahkan untuk saya yang ketika itu masih di kelas 4 SD. Menurut saya, Beda itu luar biasa. Luar biasa di sini berarti banyak hal, bisa berarti baik, namun tidak menutup kemungkinan untuk buruk.

Seorang teman berkata pada saya “wah, berarti elo ga menghargai perbedaan dong..”, hehe..saya tersenyum, apa sih dari kita yang beda!? Kita ini sama..tidak lebih dan tidak kurang. Tapi saya akui, kita ini beragam, bermacam-macam,,BUKAN BERBEDA. Beda itu kata yang digunakan untuk memperbandingkan sesuatu yang memang bertolak belakang, yang kesamaannya sedikit, malahan menuju NOL.

Contoh,

A : “eh, apa sih bedanya kucing sama ular?”

B: “Wah..BEDA banget..”

Beda itu akan dipakai jika terlalu banyak hal2 bertolak belakang yang ingin kita ungkapkan, dan BEDA bisa menjelaskan itu.

Jadi menurut saya, dalam kehidupan bermanusia, tidak tepatlah kata BEDA itu untuk mengungkapkan keberagaman kita. Sekali lagi, kita ini beragam, bukan berbeda. Dalam sudut pandang saya, kata beda akan tepat digunakan untuk hal2 yang memang di luar kebiasaan kita. Maka, dari sudut saya berpikir dan melihat,  BEDA itu LUAR BIASA.

Contoh kasus,,

1. Tau ga sih kenapa Jakarta itu macet banget? Kayak semrawut banget..Pasti banyak dari pengendara kendaraan bermotor yang ada di jalanan itu, BEDA. Liat deh, ga sedikit loh yang kalau lampu Lalin sudah merah, mereka malah tetep maju. Ini kan LUAR BIASA,,LUAR BIASA gilaaa!! Udah tau kalo Merah itu berhenti,,Kuning itu simbol untuk siap2,,Nah, kalau sudah Hijau, baru kita boleh maju. Gampang kan!? Tapi kenapa masih ada aja yang beda dalam memahami ini?? Luar Biasa kan!? Makanya, BEDA ITU LUAR BIASA!!

 

2. Udah pada tau kan, kalo mengambil hak orang lain itu adalah mencuri. Dan tentu saja semua akal orang normal akan berlanjut pada, dan mencuri adalah DOSA. Tapi kenapa sih, kok di Indonesia ini banyak banget kasus korupsi yang heboh!? APa mereka berlindung di balik ungkapan “beda itu biasa..” Ini adalah pikiran yang beda kan!? Di saat orang lain belajar dan mengajarkan kejujuran, kenapa sih masih ada aja orang yang dengan santai nya membuang kejujuran!? ANEH kan!? sama anehnya dengan para pelajar yang menertawakan kegiatan mencontek mereka. Come on guys, nyontek itu skala kecilnya mencuri..kok malah jadi bahan ketawa-ketiwi..ANEH kan? Dan ketika diberi tahu, “jangan nyontek lah..” mreka dengan santai jawab “yang laen juga gitu..” PARAH! ini sudah kronis kawan..ketika kesalahan sudah menjadi kebiasaaan, maka kita akan melihat itu sebagai sesuatu yang wajar, yang biasa aja. Sekali lagi, beda itu ga biasa kan!? BEDA ITU LUAR BIASA!!

 

Makanya, dari dulu saya penasaran, siapa yang mencetuskan ide “BEDA ITU BIASA” ?

Dan yang saya juga sangat heran, mengapa kalimatnya adalah “Bhinneka Tunggal Ika = Berbeda-beda tetapi tetap satu” ??

Coba tengok air dan api. Kedua hal tersebut adalah contoh perbedaan. Lihat ketika keduanya dipertemukan. Yang satu menghilangkan yang lain..

Ironis memang,,dari kecil kita sudah ditanamkan bahwa kita ini berbeda. Mungkin inilah yang menyebabkan kebanyakan kita melihat segala sesuatunya dengan terkotak-kotak. Kita sendiri yang menanamkan perbedaan itu. Sehingga liat, kebanyakan dr kita tidak bisa menerima keberagaman. Karena apa? karena makna “beragam” dan “berbeda” sudah bias dipikiran kita.

“Beragam” dan “Berbeda” tidak akan pernah bisa bersama. Sekali lagi, bukan saya tidak menghargai perbedaan, tetapi ketahuilah, yang kalian sebut dengan perbedaan itu, di mata dan pikiran saya adalah keberagaman.

Berbeda adalah ketika kamu berkata “4×3 = 10″

Beragam adalah ketika kamu berkata “12 itu, bisa 4×3, 3×4, 6×2, 24/2 dll..”

Kebenaran adalah sesuatu yang pasti, maka jika tidak sama, sudah pasti anda salah.

Sudah cukup aku, kamu, kalian dan kita berlindung di balik ungkapan yang

“beda itu biasa”,,karena sesungguhnya kawan, BEDA ITU LUAR BIASA!!

 

 

 

 

Antara Saya, Perempuan dan Bus Trans BSD

Ya, itu mungkin judul yang tepat untuk mengungkapkan kegelisahan hati saya yang terkadang sering muncul di pagi hari, selama seminggu belakangan ini terutama. Ini adalah minggu kedua saya tinggal di BSD. Kantor saya ada di daerah TB. Simatupang, oleh karena itu saya memilih untuk berangkat ke kantor menggunakan Trans BSD ini. Dan terhitung hari ini, saya sudah pulang-pergi menggunakan Bus ini sebanyak 8 kali.

 

Ketika Pendapat Hati tidak Diluluskan Fisik

 

Hmm..kegelisahan terkadang muncul di pagi hari, ketika bus Trans BSD ini penuh sesak dengan penumpang.

Pagi itu saya duduk di barisan ke-7, di sebelah kanan. Naik dari pool trans BSD. Tidak ada yg salah hingga detik itu. Bus pun melaju untuk saya ketahui kemudian ternyata itu adalah untuk menuju shelter2 berikutnya. Di shelter pertama (di depan Al-Azhar BSD), ada serombongan orang naik. Salah satu diantaranya adalah perempuan. Para bapak2 yang naik dari pintu belakang bus, dengan cepat mendapatkan tempat duduk di deretan belakang, bus. Si perempuan naik dari pintu depan, kepala-nya muncul, lalu celingukan. Dan apa yang perempuan itu dapati, tempat duduk bus itu sudah penuh semua. Mungkin karena keharusan dia untuk pergi ke kantor (karena kalau tidak, tentu saja dia masih di rumah saat itu), maka si perempuan memilih untuk berdiri.

Mendapati kenyataan itu, di dalam hati saya ada yang bergejolak. Hmm,,ada perasaan ga tenang gimana gitu. Tapi, dia berdiri di barisan terdepan (samping pak supir,,bukan pak kusir yaa), saya ada di tengah2 bus. Jadi, agak tidak masuk akal jikalau, saya berdiri dari tengah barisan, lalu memanggil si perempuan “Mba,,mba,,ini lho, duduk di bangku saya..” Apa yg orang2 pikirkan..kalau saya ganteng sih ga masalah, karena orang ganteng, apapun perbuatannya, tidak pernah dituduh merayu dan apalagi cari perhatian. Orang akan berpikir, “wah..udah ganteng,,baik lagi,,pas banget yaa”. Lain halnya jika yang bertindak demikian adalah saya, wajah agak2 pas,,apa komentar orang “loh..kok dia ngasi duduk si perempuan yaa?..pasti ada maunya tuh..pasti ujung2nya minta no telp..” Nah, pemikiran yang kayak ginilah yg saya hindari.

 

Akhirnya, Hati pun Menang

 

Bus pun melaju untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju shelter kedua di depan German Centre. Sepanjang perjalanan itu pun, diam2 saya mengamati si perempuan. Mengapa diam2? karena kalau saya berisik2, nanti dikira orang gilaa!!..cuss..

Di sepanjang perjalanan itu pula lah, hati saya merasa ada yang aneh. Merasa ada yang salah, merasa kalau saya ini, kok seperti tega yaa. Bus pun sampai di shelter kedua, penumpang pun banyak lagi yang masuk,,2 orang diantaranya adalah perempuan. Si perempuan pertama pun akhirnya berjalan ke tengah Bus, dan berdiri di situ. 2 baris di depan tempat saya duduk. Kok perasaan bersalah jadi semakin besar. Detik demi detik, saya mengamati sekitar. Ada bapak2, banyak Mas2 yang badannya tegep2, tapi duduk santai. Beberapa diantaranya malah tidur (atau pura2 tidur).  Mengapa saya merasa bersalah!? Mengapa saya mudah sekali merasa bersalah!?MENGAPA!!??

Akhirnya, hati saya menang. saya ga tega lagi. Cukup sampai di sini. Akhirnya saya bilang ke si perempuan..

“mbak,,duduk di sini aja..” sambil nunjuk ke kursi. (ya iyalah, kalau nunjuk lantai bus, i bisa dibakar sama si mbak!!)

“…” si perempuan cuma ngeliatin. Heran. Atau entah dia sedang berpikir apa yg ada di benak saya..

Tapi akhirnya dia duduk,,ga bilang apa2 sih..ga bilang “terima kasih” pun..Tapi bukan “terima kasih” yang saya cari, ketenangan hatilah yang menjadi tujuan saya. Kaki pegel2 dikit ga apa, yang penting hati ga”pegel2″..

Huff..hari itu, sekali lagi, KEBAIKAN PUN MENANG..

itulah adik2 sekalian..*berasa Kak Seto abis dongeng.

 

Pagi2..nge-blog pertama dari rumah baru..sambil nunggu teh hangat dari istri tercinta..

Terkisah : “Sebuah Perjalanan Unik Menuju Bandung”

Waduh, sudah lama juga ya saya tidak lihat blog ini. Banyak berita yang terdengar dan saya baca akhir2 ini, tapi kebanyakan dari itu hanya membuat emosi saya naik. Hmm..mau bagaimana lagi, pembangunan infrastruktur dan gempuran teknologi era globalisasi tidak diimbangin dengan pengetahuan/ilmu sih, ya jadi gini deh kejadiannya.

Ok, cukup deh basa-basinya. Izinkan saya untuk berkisah.

Pada suatu hari di stasiun kereta, Gambir. Ada 3 orang di sana. Tersebutlah si A, si B dan si C (nomenklatur standar) yang sedang berdiskusi tentang bagaimana cara mereka mencapai Bandung.

B : “ude..kata gua naek argo parahyangan ajee..”

A: ” ah,,kagak enak, jek. Gua maunya naek argo wilis aje..lebih nyaman..lebih adem..” jawab A menimpali

B: “yee..nyaman sama adem-nye mah sama aje kalii..”

C: “udah..argo wilis sama argo parahyangan itu mungkin sama aja nyamannya. Kan kenyamanan mah masalah selera dan sugesti kita aja. Tapi, setau gue kalo dari Gambir mau naek kereta ke Bandung, ya naek argo parahyangan.” jawab si C sambil terus membaca peta info yang ada di depan loket.

B: “tuh kan, A. si C juga bilang gitu..pegimane sih lu..”

A: “ah ogah..pokoknya, ane inget kata leluhur ane, kereta yang paling enak dan nyaman,,ya argo wilis..pokoknya udah sip dah ‘ntu kereta.” elak si A beralasan

C: “ya sudah,,itu kan hak kamu, A. Tapi kalo mau lebih memastikan, kita tanya aja mba2 yang ada di loket.” ujar A memberi saran.

lalu mereka bertiga berjalan menuju loket untuk menghampiri mba penjaga loket yang baik dan ramah.

B: “mba, kalo mau naek kereta ke Bandung, naek nyang mane ye?” tanya B membuka pembicaraan.

mba penjaga loket: “kalau untuk pergi ke Bandung, Bapak2 bisa naik Argo Parahyangan, seperti yang Bapak2 bisa lihat di papan jadwal tersebut” jawab si mba sambil menunjuk papan jadwal yang terletak di beberapa tempat di sekitar situ.

B: “tuh kan!! ape kate gue..lo kagak percaya sih A” cerocos B pada si A dengan semangat menggebu.

A: “ah ngga ah,,gue tetep beli argo wilis aje. setau gue, dari info temen2 dan leluhur gue, itu kereta paling ok.” kata A sambil berlalu tanpa peduli jawaban dari si mba.

C: “ya sudah, saya dan B mau beli tiket yang argo parahyangan yaa..mba, aku saya mau beli 2 tiket ke bandung mba ya..jam keberangkatan terdekat.” jawab C pada A, dan lalu kemudian dia pesen 2 tiket untuk pergi ke Bandung bersama si B.

Si A pun membeli tiket kereta Argo Wilis.

Tidak jauh dari mereka, ternyata ada seseorang yang memperhatikan dialog mereka tentang bagaimana cara pergi ke Bandung tersebut, maka saya tambahkan lah si D sebagai orang itu.

D: “HAHAHAHA..kalian bertiga ini bagaimana..kalo ke Bandung..ya cuma ada 2 kereta..Argo Gede dan Parahyangan..gitu aja kok ga tau..saya ini udah sering sekali naek kereta ke Bandung..” tiba2 si B berkata dengan lantang pada mereka bertiga, dan melirik tajam ke arah B dan C yang beli tiket Argo Parahyangan.

B: “iye gitu!?” tanya B bingung sambil melirik si C

C: “Oh..bapak tampaknya memang sering ya naek kereta ke Bandung. Bapak kapan terakhir kali pergi ke Bandung dengan kereta?” tanya C pada si D.

D: “hoo..ya sering..tapi semenjak 2 tahun lalu ada travel, saya ndak pernah lagi naek travel. Tapi ya dari dulu, sebelum ada travel itu, saya selalu naek kereta ke Bandung.” jawab D dengan semangat dan bangga

C: “oh..gini pak, menurut info yang saya tahu, sudah dari 2 tahun lalu, kereta Argo Gede dan Parahyangan itu tidak ada lagi. Dilebur jadi satu kereta dengan nama Argo Parahyangan..” jawab C mencoba menerangkan pada si Bapak.

D: “ah..sok tau kamu..saya ini sudah pengalaman lebih lama dibanding kamu, dari jaman dulu ya gitu. Ada Argo Gede dan Parahyangan. Jangan sok tau kamu..masih bau kencur aja sudah sok!” jawab si D ketus, karena merasa si C sudah mengajarinya tentang cara pergi ke Bandung.

A, B dan C saling melirik. C hanya mengangkat bahu. Mereka pun berjalan menaiki tangga untuk segera menunggu di koridor tempat pemberangkatan kereta.

A lebih dulu naik kereta. Sambil melambaikan tangan yang menandakan kepisahan mereka di stasiun itu. Tentu A tetap berharap untuk dapat sampai di Bandung dan bertemu mereka lagi.

Kereta Argo Parahyangan pun datang. B dan C segera menaiki kereta tersebut. Sebelum naik, C dan B melihat D yang sedang berdiri di sana. Menunggu datangnya kereta Parahyangan atau Argo Gede. Yang sebenarnya kereta tersebut sudah tidak ada lagi sekarang.

Maka berakhirlah kisah dari mereka di stasiun pemberangkatan itu.

Pesan yang dapat diambil :

1. Semua pilihan yang ada dalam hidup, harus ditelaah sesuai dengan ilmu yang ada. Memang benar kita -manusia- punya kebebasan untuk memilih, tapi kita memilih itu pada sesuatu yang sudah ada tuntunan dan ketetapannya. Bukan asal memilih. Bukan karena leluhur atau teman2 kita memilihkan itu untuk kita, seperti kasus si A di atas.

2. Kita diberi akal dan nafsu dengan maksud agar kita dapat mencari dan mempelajari apa2 yang sudah ditetapkan kita untuk menjadi pedoman hidup. Seperti C yang mencari tau lewat papan informasi dan bertanya pada mba penjaga loket.

3. Mungkin kita pernah mendapat ilmu dan informasi, tapi sebagai manusia yang masih berakal dan bernafsu, kita wajib untuk mengeksplorasi ilmu yang kita punya sesuai dengan koridor yang tersedia. Bila tidak seperti ini, kita akan tertinggal informasi dari orang lain. Seperti si D yang masih menganggap bahwa kereta Argo Gede dan Parahyangan masih ada.

Akhirnya, pilihan2 yang kita ambil itu adalah untuk kita sendiri, akan berakibat pada hidup kita sendiri. Jadi pilihlah pilihan kalian dengan bijak dan jalankan pilihan kalian dengan benar, sambil terus mencari info tentang kebenaran pilihan  kalian. Janganlah hidup seperti kuda yang berjalan dengan kacamatanya. Jangan pula hidup dengan menjalani pilihan yang orang lain ambil untuk kalian.

Karena terkadang, kita akan lebih menyesal terhadap apa2 yang tidak kita ambil daripada apa2 yang sudah kita ambil.

Mungkin itu sedikit kisah di pagi hari. Semoga membawa inspirasi

Saya tunggu komentarnya, kawan.

MERDEKA,

IGAN

Cerita Ibuku Tentang Kakeku

Hari ini hari selasa, 14 Desember 2010. Baru aja MU menang tipis dari Assenal, 1-0 aja. Toh mau rooney tadi penalti nya masuk, poin ga akan nambah 6. Lagipula, kalo rooney penalti nya masuk, pasti aja bakal ada yg beralesan “gol penalti itu mengganggu mental kami” HECK! lagu lama bung.

Tapi bukan tentang itu yang bakal saya ceritain. Saya jadi teringat, cerita bunda tentang bapaknya, iya, itu langsung otomatis jadi kakek saya. Kenapa tiba2 teringat? gara2 tadi pas buka twitter ada seorang teman yang menulis “MU 1 – 2 Arsenal..-Mama Loren in The Sky”..ya, cerita bunda saya ini tentang pengalaman kakek saya berurusan dengan “orang pintar”.

 

Beberapa puluh tahun yang lalu, dimana bandung masi sepi dengan kendaraan, orang jakarta dan -apalagi- FO..tersiarlah kabar mengenai seorang “pintar”. Bukan pintar berhitung atau membaca, tapi dia pintar karena punya “ilmu” (baca:elmu). Bukan ilmu berhitung atau membaca pula ya.

Singkat kata, kakek saya bisa bertemu dan kemudian menjadi sedikit akrab dengan orang pintar tersebut. Hari ke hari tiap berbincang dengan si orang “pintar”, pasti kakek saya dikisahkan tentang kehebatannya..ya kebal lah, menghilang lah, bisa ada di dua tempat lah, bisa teleportasi lah..dan banyak lagi kisah2 jenaka lainnya.

 

Karena kakek saya adalah orang yg super penasaran -kayaknya ini nular banget ke saya, cucunya- maka beliau menyusun rencana untuk dapet menjadi saksi mata atas segala “kepintaran” si orang “pintar”.

Akhirnya, hari itu kakek saya mengajaknya jalan2 ke jakarta menggunakan kereta. Setelah 1 jam berbincang, kereta pun terus melaju di rel-nya menyusuri itu sawah2, bukit2, semakin jauh meninggalkan kota bandung. Tak berapa lama berselang pun, seperti biasa di kereta, datanglah petugas periksa karcis/peron.

Kakek dan si orang “pintar” pun tengah asyik berbincang mengenai -ya apalagi- “kepintaran” orang tersebut. Tapi perbincangan itu terhenti ketika si orang “pintar” melihat itu petugas periksa karcis/peron.

Si Orang “Pintar” : “Kang, saya di beliin karcis juga kan?”

Kakek Saya : senyum simpul sedikit “kenapa memang nya?”

Si Orang “Pintar” : “Itu kang, ada yang mau meriksa”

Kakek Saya : “Wah, ngga tuh. Cuman beli satu karcis..”

Si Orang “Pintar” : “Naha atuh ?” (kenapa gitu?)

Kakek Saya : “Kirain tadi udah beli sendiri..”

Si Orang “Pintar” : “yaah..tadi dikirain dibeliin..kan Akang yang ngajak jalan2nya juga..” udah tanpa harapan gitu

Kakek Saya : “gimana atuh?” (gimana dong?)

Si Orang “Pintar” : ” yaa gimana yaa..mana ga bawa uang lagi..” berharap di bayarin meureun..

Kakey Saya : “oh iya,,ya udah atuh..”

Si Orang Pintar : “tah, nuhun kang..” (nah, makasih kang) berharap mau dibayarin kakek

Kakek Saya : “Bukan,,kan akang tiasa nga-leungit” (bukan,,kan akang bisa ngilang)

Si Orang Pintar : …..NGOK!!

 

yaa,,dari dulu kisah tentang orang pintar adalah seperti itu, dan tetap akan menjadi seperti itu sampai kapan pun..

di dinginnya cimahi yang udah beberapa hari ini memang dingin banget!!

 

 

Hati Tidak Pernah Bohong??

Ya..akhir2 ini hati saya sedang diguncang oleh perasaan yang sangat tidak enak. Terlalu tidak enak untuk bisa merasakan tidur nyenyak, makanan sedap dan semua kebahagiaan lainnya.

Dan saya tahu, perasaan ini tidak baik, ini bisa membawa saya ke dalam lajur ke-kufuran.

Mungkin ini adalah keadaan dimana hati sedang dalam keadaan tidak tenang. Mengapa? Padahal saya sudah merasa hidup bebas..orang bijak sering berkata “hati tidak pernah bohong”. Ya, bilamana saya bisa tertawa disaat hati sedang tidak enak perasaannya, bukan hati yg bohong, tapi sayalah si pembohong itu.

Karena saya yakin, sesuatu yang kecil bernama “hati”, adalah awal dr sikap yang akan keluar dari raga kita. Maka disaat kita belum menjadi orang baik, maka niscahya kita belum memberikan kebaikan yg cukup pada “hati” ini. Namun, jikalau kita merasa “hati” kita baik2 saja padahal tindakan raga kita tidak seperti “baik-baik” saja, pertanyakan itu..siapa yang bohong? Hatikah? Atau kita?

- haduh..dipenuhnya antrian orang di dalam gedung telkom yang tidak ada habisnya..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.