Diskriminasi ?
Ya..
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi jejaring, Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama manusia warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb.)
Sebelum bahas makna ini lebih jauh, saya ingin mempertanyakan, siapakah penulis KBBI ini? mengapa dia menulis “dsb” di sana? terlalu banyak kah keragaman kita? Apakah memang benar kita terkotak-kotak sebagaimana pengertian bahasa di atas? Atau memang di negara ini lumrah terjadi pembedaan karena beberapa unsur di atas?
hmm..anyway, balik lagi ke persoalan diskriminasi.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya 1 desember, diperingati sebagai hari HIV-AIDS sedunia. Mengapa harus diperingati? Bukan coba untuk mendiskriminasi kan tentunya?? Mungkin jawaban yang bisa tepat mengena ke logika saya adalah, untuk mengingatkan kita, manusia, bahwa ada virus HIV yang berbahaya dan sudah menyebabkan kematian dalam jumlah yang tidak sedikit.
Sebenarnya, bukan cuma virus ini aja kan yang menyebabkan kematian dalam jumlah banyak!? Ya, tentu jawabannya adalah iya. Bukan hanya HIV saja yang menyebabkan kematian. Lalu apa yang berbeda dengan virus2 atau penyakit2 lain yang juga sama2 menyebabkan kematian? Jawabannya adalah, pada tahap awal, tidak ada ciri khusus yang bisa membedakan orang yang positif terjangkit, dengan orang yang negatif. Kalau mau tau ciri2 HIV positif, tinggal bercermin aja. Ya, itu kita. Manusia yang “tampak” sehat di kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang berbeda pada tahap awal infeksinya. Maka dari itu banyak orang yang terlena. Mungkin banyak yang tidak sadar bahwa mereka terjangkit virusnya. Dan karena bila sudah terinfeksi HIV positif, tubuh kita akan mengalami defisiensi (kekurangan) sistem imun. Kejadian inilah yang nantinya akan membuat sistem tubuh kita menjadi sangat gampang terserang penyakit. Dan rata2, penderita HIV+ meninggal karena ada beberapa penyakit pada tubuhnya.
Oleh karena sebab di atas lah, maka pakar kesehatan (dokter dan semua elemen yang ada di dalamnya) sangat giat untuk melakukan beragam kegiatan yang bertujuan agar masyarakat aware dengan virus ini. Harapannya adalah, tingkat penyebaran infeksi virus HIV dapat dibuat se-sedikit mungkin. Jadi sebenarnya, tidak bijak jika hari tersebut (1 des) dijadikan “hanya”sekedar curhat saja.
Jadi, di mana diskriminasi itu?
Ok. Balik lagi ke masalah diskriminasi. Saya sebenarnya agak menyayangkan tindakan orang tersebut untuk mengekspos perlakuan diskriminatif yang diterima keluarganya. Mengapa? karena masyarakat, media dan pemerintahan kita -dilihat dari tren nya- masih tidak cakap dalam menyikapi masalah seperti ini. Akhir ceritanya, ini akan menggelembung menjadi balon, lalu kemudian pecah dan hilang tanpa bekas. Bapak tersebut, pada 1 des kemarin, bercerita tentang bagaimana dia dan keluarganya mendapat perlakuan yang diskriminatif (yang pada 1 des tahun lalu pun saya baca juga paparan beliau). Tapi, untuk 1 des sekarang, kasus menjadi ramai, karena anaknya ditolak untuk bersekolah di salah satu sekolah swasta di jakarta. Sedih? jelas sedih dong. 1 anak Indonesia tidak bisa sekolah karena ini. Pada point ini, saya sangat sedih mengetahui kenyataan seperti ini masih ada di negara kita. Tapi, yang saya lebih sedih lagi, reaksi sang bapak yang “memuntahkan” cerita ini ke -social- media.
Apa ini reaksi yang tepat ?
Saya pun mulai berkomentar tentang peristiwa ini (peristiwa sang bapak curhat, bukan peristiwa anak ditolak sekolah yaa) di timeline twitter saya. Dan beberapa teman pun “mulai” menyerang pemikiran saya. Banyak dari mereka yang bilang “lo liat dulu dong timeline dia, jangan asal jeplak aja”..hehe, asal kalian tau kawan, tepat setahun yang lalu juga saya sudah mencermati isi timeline bapak tersebut. Adapula yang berkomentar, “lo pikir dong, kalo lo HIV+, terus anak lo ga bisa sekolah gara2 itu, lo sedih ga?” hehe (selalu saya jawab dengan senyum atau tawa tepatnya) saya sedih kawan, tapi saya tidak akan bereaksi seperti itu dan jikalau saya positif, saya pun memilih untuk TIDAK memasukan anak saya ke sekolah biasa (umum). Karena saya akan lebih sedih lagi, jikalau di sekolah umum tersebut mulai banyak yang terinfeksi virus HIV, lalu anak saya dan saya yang menjadi “kambing hitam” atas peristiwa tersebut.
Dan satu lagi kawan, pernah kalian pikirkan perasaan ratusan orang tua murid yang punya anak HIV negatif, tiba2 pulang membawa kabar bahwa dia seorang HIV+ ?? pernah ada pikiran itu di kepala kalian? pernah kalian pikirkan rasa khawatir dan rasa apa lagi yang ada di pikiran orang tua kalian ketika kalian bilang “mah, aku hiv+..” Padahal orang tua kalian tahu, pergaulan kalian baik2 saja. Kalian nggak ngobat, kalian bersih dari tato, kalian ga maen sama pelaku prostitusi.
Lalu Apa Ke Depannya?
Sekali lagi saya tekankan. Saya sama sekali tidak menolak untuk bergaul dengan ODA. Poin saya adalah, bagaimana agar masyarakat dapat menerima edukasi yang cukup mengenai masalah ini. Dan bukan maksud saya untuk diskriminatif, tapi memang ORANG2 SPESIAL BUTUH PERLAKUAN YANG SPESIAL. Kalau kita hanya mengaitkan kata diskriminasi dengan perasaan, ga akan ada habisnya kawan. Saya, orang berkulit tidak putih, akan merasa terdiskriminasi melihat iklan produk kecantikan yang berujar “kulit putih lebih sehat”..APA MAKSUDNYA? -perasaan saya mikir gitu-. Dan kalau hanya bermain dengan perasaan, berapa banyak orang tua siswa luar biasa di luar sana, yang akan menuntut sekolah dan pemerintah hanya karena anak mereka tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah biasa?. Kalau bapak tersebut dilarang masuk mall karena HIV+, itu aneh. Kalau bapak tidak boleh beli sembako karena HIV+, itu absurd!
Ayolah kawan,,kita semua tahu, pendidikan itu bukan cuma bisa kita dapat di sekolah. Liat kak Seto, apa beliau merasa minder? justru beliau diberi kepercayaan untuk menjadi bagian KOMNAS ANAK. Liat HANSON, mereka home school, dan mereka tetap oke dengan MMBBOOPP nya.
Belajarlah dari sekitar..banyak ilmu di sekitar kita jika kita mengetahui. Jangan terjebak dalam perasaan.
YANG SPESIAL MEMANG BUTUH PERLAKUAN SPESIAL JUGA
Dan sekali lagi, tidak ada DOSA-nya untuk jadi spesial, toh..
Untuk kawan2ku semua, MERDEKA!!!
Menurut saya tidak berlebihan jika kita mengagumi sosok seorang pahlawan sama dengan kita mengagumi sosok seorang super hero yang ada dalam cerita.
Artinya, jika kita sekarang mahasiswa, maka bahasa kita dalam seni dakwah adalah prestasi akademis kita.
hehe..prestasi akademis itu maksudnya apa? IPK di atas 3.00 ?
Sebenernya lebih kepada “manfaat apa yang bisa kita berikan untuk masyarakat (lingkungan dekat kita khususnya) dalam posisi kita sekarang”. Itu sih intinya. *asa ga nyambung sama postingan..hehe